Sunday, October 1, 2006

Kabar Terakhir Srimulat Surabaya, Pergulatan Tiga Hari demi Eksistensi

Sumber: Kompas | 01-10-2003

 

BANGUNAN gedung berwarna coklat di tengah kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya yang seakan “terkepung” oleh bangunan mal yang modern itu, siang itu tampak kusam dan lengang. Sendirian dan ditinggalkan. Menapaki tangga yang berdebu, kita segera melihat di samping kanan tampak dua loket tertutup. Terbaca tulisan “loket Srimulat” mencolok dengan warna merah, dan, “pesan tempat jam 10.00-14.00″ dan harga rata-rata Rp 3.000. Tulisan- tulisan itu saat ini tak bermakna apa-apa, karena tak ada petunjuk apa pun yang menyarankan sebuah denyut kehidupan–apalagi kehidupan kesenian.

KETUA Harian Srimulat Surabaya, Djumain Djaman Soesilla membukakan pintu utama gedung. Di dinding pembatas antara lorong masuk dengan tempat duduk penonton itu, kita disambut oleh jajaran foto wajah-wajah cerah, dengan senyum lebar atau tawa.

Di sana tampak sejumlah bintang Aneka Ria Srimulat, Djudjuk (istri Teguh Rahardjo pendiri Srimulat), Kadir, Basuki, Gepeng (almarhum), Asmuni, Tessy, Nunung, Vera, Subur (almarhum), dan banyak lagi. Mereka adalah bintang Aneka Ria Srimulat semasa masih jaya.

Terbayang bagaimana Triman dengan gayanya sebagai orang kaya dengan langkah terseok-seok mampu memancing rasa geli, apalagi ditambah tingkahnya yang sok dengan bahasa Inggris yang berlepotan. Gayanya selalu menimbulkan tabrakan logika dan menggelitik syaraf tawa.

Meminjam komentar Arwah Setiawan yang termuat dalam buku Teguh Srimulat Berpacu dalam Komedi dan Melodi tulisan Herry Gendut Janarto, penampilan seorang peraganya, Budi SR, misalnya, telah mampu memporakporandakan daya asosiasi Arwah Setiawan.

Budi yang sering tampil sebagai tukang pijat di panggung lengkap dengan tongkat putih dan bunyi crek…crek… kemudian melantunkan lagu And I Love You So dengan artikulasi yang benar dan suara merdu.

Dengan resep yang ditinggalkan Teguh Srimulat bahwa “yang aneh itu lucu”, di puncak kejayaannya, antara tahun 1970-1990-an awal, kelompok humor ini mampu menyedot penonton hingga memenuhi kapasitas 800 penonton di THR.

KILAS balik sejarah kelompok dagelan Aneka Ria Srimulat yang pernah jadi ikon Kota Surabaya ini, seperti tertulis pada buku Teguh Srimulat Berpacu dalam Komedi dan Melodi (1990) diawali dari sebuah kolaborasi antara sripanggung bersuara merdu, Srimulat dengan Teguh Rahardjo yang pemain gitar, di Solo.

Setelah membentuk kelompok seni Gema Malam Srimulat, dimulailah pengembaraan pasangan ini lewat pentas seni dari satu kota ke kota lain, dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Rombongan nyanyi dan tari ini, mulai dengan lawakan pertama mereka pada 30 Agustus 1951 menampilkan tokoh-tokoh dagelan Mataram seperti Wadino (Bandempo), Ranudikromo, Sarpin, Djuki, dan Suparni.

Perpaduan antara pertunjukan musik dan lawak kemudian menjadi suatu formula khas bagi Gema Malam Srimulat. Kehadiran dagelan Mataram dengan gaya lawakannya menjadi resep ampuh untuk menarik penggemar. Lawak dan nyanyi menjadi kesatuan yang tidak bisa dipisahkan lagi.

Dengan kekuatan itulah Gema Malam Srimulat kemudian berpentas dari satu pasar malam ke pasar malam lainnya, di pelbagai kota di Jawa. Dari satu kerumunan ke kerumunan massa lainnya.

Era tahun 1960, ketika Srimulat mulai terganggu kesehatannya, Teguh yang menemukan penyanyi cilik Yana-yang menggantikan peran Srimulat sebagai bintang panggung Gema Malam Srimulat-menelurkan gagasan untuk tampil di panggung secara menetap.

Maka, Jumat tanggal 19 Mei 1961 menjadi hari bersejarah bagi Gema Malam Srimulat yang menancapkan kakinya pertama kali di Surabaya, tepatnya di THR Surabaya. Nama Gema Malam Srimulat pun lalu diubah lebih “komersial” menjadi Srimulat Review. Dimulailah perjalanan sebuah komunitas kelompok musik-komedi yang mungkin secara tidak sengaja dan berproses menjadi sebuah fenomena, menjadi sebuah subkultur baru.

KETIKA banyak pementasan sarat dengan pesan dan kritik sosial, kelompok Srimulat membebaskan diri dari patron tersebut. Srimulat hadir untuk menghibur. Kelompok ini benar-benar merupakan perwujudan sebuah subkultur Jawa.

Seperti yang diungkapkan Djumain, “Kami tidak mengkritik, apalagi mencaci-maki membuat sakit hati orang. Tidak ada muatan-muatan kritik sosial tertentu. Yang pasti, kami tampil untuk menghibur, membuat orang tertawa.”

Di sana, seperti dituliskan Anwari dalam buku “Indonesia Tertawa, Srimulat sebagai Sebuah Subkultur”, Srimulat telah menerapkan pandangan-pandangan hidup orang Jawa seperti aja dumeh (jangan sok), tepa slira (tenggang rasa), gemi (hemat), dan lain-lainnya.

Ketika ditelisik lebih lanjut, ternyata ada pesan-pesan yang sarat dengan balutan kultur Jawa. Misalnya, dengan selalu membuat peran batur (pembantu rumah tangga) sebagai tokoh sentral yang selalu mengawali pertunjukan Srimulat. Tokoh batur ini pun selalu mengenakan busana Jawa-pria dengan blangkon dan perempuan dengan kebaya.

Di bukunya, Anwari menuliskan, seni lawak Srimulat merupakan puncak dari dagelan atau lawakan yang telah ada dalam kesenian tradisional Jawa. Kehidupan kelompok Srimulat ini sehari-hari jelas kental dalam kultur Jawa, walaupun mereka berasal dari berbagai daerah mulai dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Dalam perjalanannya, kelompok Srimulat tidak lagi hanya mengetengahkan dagelan Mataram, namun mulai merambah khazanah ketoprak dan ludruk -pertunjukan tradisional khas Jawa Timur.

Sebagai sebuah subkultur, di puncak kejayaannya Srimulat nyaris ibarat gelombang yang tak tertahankan. Hingga akhirnya membuka panggung permanen di Solo dan di Jakarta. Sampai-sampai panggung Srimulat diusung ke layar televisi.

Namun, manajemen tradisional yang tidak segera menyesuaikan diri, menyebabkan Srimulat terpuruk di akhir tahun 1980-an. Setelah itu, keluarga besar yang memiliki atmosfer yang menyuburkan kemampuan para anggotanya dalam melawak ini, secara perlahan mulai surut kekuatannya.

Semua lini pun menyurut, baik yang di Jakarta, Solo, bahkan di basisnya di THR Surabaya.

Upaya untuk bangkit lagi, Srimulat Surabaya pertengahan tahun 1980-an-1992, cukup berhasil. Namun lantaran salah urus oleh pihak manajemen, menyebabkan Srimulat Surabaya terpuruk lagi.

Ini berpuncak pada pertunjukan suatu malam bulan Desember 2000, yang menurut Djumain, terpaksa dibatalkan karena penonton yang datang hanya tiga orang (!).

TIDAK dapat dipungkiri bahwa dinamika sosial masyarakat memiliki andil yang tidak kecil atas surutnya pamor kelompok lawak Srimulat. Komunikasi antara kelompok ini seolah terputus dengan masyarakat penggemarnya saat itu.

Kini, setelah “mati suri” selama tiga tahun, Srimulat mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Seperti diungkapkan Djumain, dia akan mencoba “mengembalikan roh” Srimulat .

Pertunjukan yang rencananya akan digelar tiga hari mulai hari ini, Rabu 1 Oktober 2003 pukul 19.30, akan dikemas dalam bentuk tari, musik, lawak, bahkan akan ditambah lagi dengan sulap dan peragaan busana.

“Pertunjukan kami nanti akan menyamai televisi, sehingga berbeda dengan pertunjukan Srimulat yang lalu-lalu,” ujar Djumain, ketua harian yang merangkap sebagai sutradara Srimulat Surabaya.

Lakon yang digelar berturut-turut Raksasa Jatuh Cinta (Rabu 1 Oktober), Drakula Ngebor (Kamis 2 Oktober), dan Minak Jinggo Gandrung (Jumat 3 Oktober). Ini bisa disebut pentas “coba-coba”. Kalau sukses (dari segi penonton), pentas diteruskan ke hari-hari berikutnya. Kalau tidak? Srimulat sendiri yang harus menjawab. Untuk itu tidak kurang dari 66 artis akan digandeng Djumain, dan dua kelompok seni yaitu Sanggar Respati, serta Sanggar Tari dan Model Mahardika.

Di sisi lain, sosiolog Bagong Suyanto dari Universitas Airlangga Surabaya yang dihubungi Selasa (30/9), mengemukakan bahwa pamor Srimulat sebagai kelompok panggung merosot, karena Srimulat tidak mampu menampilkan kemasan baru. Seperti budaya Betawi yang ditampilkan di televisi dengan kemasan yang menarik.

“Kelemahan Srimulat, yaitu tidak mampu mengemas pertunjukan mereka secara menarik. Padahal, pasar sekarang sudah berubah, dan persaingan semakin sengit. Jika Srimulat tetap menampilkan lawakan yang dulu-dulu dengan pilihan kosa kata yang tidak berubah, akan menjemukan,” ujar Bagong.

Selain itu, keterbatasan lawak yang dibawakan secara langsung untuk mengundang penonton, memang tidak bisa melahirkan selebriti sebagaimana yang terjadi dalam sebuah pertunjukan musik. “Lawak tidak ada yang bisa dijual, karena hanya menjual suasana dan dialog. Sementara, penggemar perlu idola untuk bisa terus datang dan menyaksikan penampilan mereka,” tambah Bagong.

Untuk itu, tantangan yang dihadapi Srimulat sangat berat, sehingga kelangsungan hidup Srimulat tergantung dari usaha Srimulat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, termasuk dengan menggandeng media elektronik.

Menyinggung nasib ikon Kota Surabaya itu, Sabrot D Malioboro dari Dewan Kesenian Surabaya (DKS) memandang bahwa Srimulat sudah bukan lagi sebagai ikon Surabaya. Menurutnya, para pemain yang ada di Surabaya belum layak untuk ditonton, karena belum mampu membangun akar budaya Surabaya.

Ia menyarankan agar Srimulat tidak lagi konvensional agar mampu merebut penonton baru. “Kunci keberhasilan Srimulat saat ini tergantung dari pimpinan Srimulat yang baru. Bagaimana usahanya mengkonsolidasikan para personel, atau mengguyubkan personel yang selama ini terpencar-pencar,” katanya.

Keterpurukan kini memang melanda kehidupan para awak Srimulat. Lima keluarga dan dua bujangan yang tidak memiliki pekerjaan tetap kini tinggal di Gedung Srimulat THR Surabaya. Kondisi ini lalu membuat gerah Pemerintah Kota Surabaya yang mencanangkan akan merenovasi gedung Srimulat secepatnya.

Maka, dibuatlah perjanjian antara Pemkot Surabaya dan pihak Srimulat yang menyebutkan, personel Srimulat harus hengkang dari sana paling lambat 10 Oktober 2003.

“Saya ingin mencarikan pesangon buat mereka, untuk mengontrakkan rumah bagi para personel Srimulat,” ujar Djumain, “Karena itu, kami menggelar pementasan ini. Sekaligus untuk mengetes respons masyarakat Surabaya akan keberadaan Srimulat di sini.”

Djumain menegaskan, pertunjukan selama tiga malam ini akan menjadi semacam pertunjukan “hidup atau mati” bagi Srimulat Surabaya.

Tiga hari yang akan merupakan pergulatan berat bagi sebuah eksistensi subkultur. Mampukah mereka? (L04/ISW)

Posted by JC in 12:50:06 | Permalink | No Comments »

Wednesday, March 15, 2006

Sepak Bola Galatawa Srimulat Hidup Lagi

 

Sumber: Kompas | 10 April 2003

GRUP aneka ria Srimulat Surabaya kini kembali menghidupkan sepak bola galatawa karena tidak memungkinkan lagi mengandalkan pemanggungan di Gedung Srimulat, Kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.

SELAIN ketiadaan sponsor, pemainnya pun sudah “berantakan” dan mencari sumber penghidupan sendiri-sendiri. Namun, mereka berkumpul kembali ketika Srimulat menerima tanggapan, terutama tanggapan lawak.

“Daripada tidak ada kegiatan sama sekali, ya, dihidupkan lagi sepak bola galatawa Srimulat. Pemain-pemain Srimulat, termasuk Bambang Gentolet dan Didik Mangkuprojo, ikut memberikan dukungan dan bersedia main,” kata Bambang Suroso, Pimpinan Grup Aneka Ria Srimulat Surabaya, ketika ditemui Kompas, Rabu (9/4), di Surabaya.

Dikatakan, grup aneka ria Srimulat Surabaya, yang sempat berjaya pada tahun 1970-an hingga tahun 1980-an, ini kini nasibnya kembang kempis antara hidup segan mati tak mau. Dan, terakhir, grup canda tawa ini sempat bangkit lagi ketika ada sponsor yang bersedia mendukung dana.

“Terakhir bulan Oktober tahun lalu, Srimulat sempat manggung kembali, tapi hanya bertahan satu bulan saja,” ujarnya.

Tatkala Srimulat manggung kembali pada bulan Oktober tahun lalu, pihak sponsor memanfaatkan kesenian tradisi khas mataraman ini untuk permainan berupa undian berhadiah sehingga mendapat sorotan masyarakat, termasuk kepolisian.

“Untuk masalah bingo dan prosedur perizinannya, saya ndak tahu-menahu, yang penting, bagaimana Srimulat bisa hidup,” kata Bambang Suroso.

Melihat realitas aneka ria Srimulat yang sudah tidak lagi manggung di THR Surabaya, pimpinan mencari jalan keluar agar tetap bisa bernapas. Salah satunya adalah menjalin kerja sama dengan Puskopad (Pusat Koperasi TNI Angkatan Darat) Brawijaya, Malang.

“Sebulan sekali, sepak bola galatawa Srimulat akan menghibur masyarakat dari satu daerah ke daerah yang lain, dan imbalan yang kami terima Rp 2 juta dari Puskopad Brawijaya, Malang,” ujarnya.

Menyinggung harga tiket masuk untuk menonton hiburan segar pertandingan sepak bola galatawa dengan waria, Bambang Suroso mengatakan, tidak tahu-menahu masalah itu karena hal itu urusan Puskopad yang menanggap Srimulat.

Diungkapkan, sepak bola galatawa Srimulat sudah ada sejak tahun 1987 dengan pemain antara lain Tessy. Sang pengocok perut dengan ciri khasnya memerankan sosok bencong dengan cincin akiknya yang serba gede melingkari jari-jarinya itu kini berkibar di Jakarta.

Malahan, sepak bola Srimulat itu pun kadang kala diperkuat pemain-pemain Persebaya ketika memberikan hiburan kepada masyarakat.

“Mustaqim, pemain Persebaya, pernah ikut sepak bola galatawa Srimulat,” ujar Bambang Suroso.

Dikatakan, sepak bola galatawa Srimulat sempat lima tahun kolaps (1998-2002) karena tidak ada pihak-pihak yang bersedia menjalin kerja sama. “Terakhir tahun 1997, kami masih sempat main sepak bola galatawa keliling ke beberapa daerah bekerja sama dengan Pak Nursaid, pensiunan TNI AD,” ujarnya.

Waktu itu, sepak bola galatawa ini bermain bola di Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Pamekasan. “Saat bermain di Pamekasan, saya terpaksa mengajak waria dari Surabaya sebagai lawan tanding galatawa Srimulat,” ujarnya.

Sepak bola galatawa ini akan melakukan pertandingan perdana 4 Mei mendatang di Malang. Lalu, pada bulan Juni akan bermain di Trenggalek. “Kami akan bertanding melawan waria Malang,” kata Bambang Suroso.

Selain bermain bola, pelawak-pelawak Srimulat, seperti Bambang Gentolet, Didik Mangkuprojo, Hunter, Sokle, Kisbandiyah, dan Miarsih, bakal memberikan hiburan konyol berupa lawakan khas aneka ria Srimulat.

“Uniknya, pertandingan antara galatawa Srimulat dengan waria itu, kalau bola keluar lapangan, semua pemain harus berjoget bareng dengan iringan musik dangdut dari kaset,” katanya.

Menyoal menghidupkan kembali panggung aneka ria Srimulat Surabaya, Bambang Suroso belum memikirkannya. “Sebenarnya, ada sponsor yang bersedia memberikan dukungan dana, tapi masalahnya, ya, harus ada undian berhadiah. Pihak sponsor itu mengatakan, kalau Srimulat mau hidup, harus dengan permainan seperti bingo,” tuturnya. (tif)

Posted by JC in 13:05:44 | Permalink | No Comments »

Sumber: Kompas

SUASANA Agustusan bagaimanapun telah mengingatkan kembali kesibukan para seniman panggung melayani tanggapan, terutama para pelawak yang mendapatkan berkahnya. Tidak terkecuali bagi mantan para pemain Srimulat Surabaya, sekalipun tidak lagi bisa manggung di gedung yang pernah membesarkan mereka.Panggung Aneka Ria Srimulat di Kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya sekarang ini hanya meninggalkan kesan memprihatinkan. Situasi ini hampir disusul oleh Ketoprak Siswo Budoyo yang berada di kawasan yang sama. Para pemainnya hanya bisa hidup dari tanggapan-tanggapan dari luar, selain berjualan apa saja untuk sekadar bisa bertahan.

Salah seorang personel Srimulat Surabaya yang masih tetap berharap panggungnya kembali hidup, di antaranya Miarsih (52), kelahiran Pajeksan, Yogyakarta. Walaupun untuk Agustusan tahun ini ia menerima tidak kurang tiga kali tanggapan pentas bersama Vera, Kisbandiah dan Lutfi.

Suasana peringan HUT Kemerdekaan RI seperti sekarang ini justru mengingatkan akan kenangan manisnya. Bagaimanapun, dengan memiliki panggung tetap akan memberikan jaminan yang lebih baik. Bisa saja sekarang ramai tanggapan, namun sudah tentu ia berharap di bulan selanjutnya juga masih banyak yang membutuhkannya.

Pelawak perempuan kelahiran Pajeksan ini tidak pernah membayangkan panggung Srimulat Surabaya bakal redup bagai lampu teplok kehabisan minyak. Padahal, dekade awal 1990-an Aneka Ria Srimulat di THR Surabaya saat manajemennya dipegang Misran, penonton masih ramai dan sponsor pun mengalir.

“Pak Misran sempat menggadaikan sertifikat tanah dan harta benda miliknya sewaktu Srimulat butuh untuk hidup, namun setelah Srimulat bangkit barang-barang gadai itu bisa kembali dia dapatkan,” tuturnya.

Terakhir, Mia demikian sapaan untuk Miarsih, pentas gabungan bersama Timbul dan Tarsan, tahun 1997, di Gedung Aneka Ria Srimulat Surabaya, setelah itu jarang manggung setelah keadaan Srimulat mulai oleng karena penontonnya terus menyusut hingga memaksa panggung hiburan itu menghentikan aktivitasnya.

***

PENGALAMAN manis menghibur penonton di tempat hiburan malam yang ia rasakan itu kini tinggal sebuah kenangan belaka. Bukan hanya lawak tradisional, tetapi seni tradisional lainnya, seperti ketoprak dan wayang orang menghadapi nasib yang sama. “Sekarang ini mana ada tempat hiburan malam yang mementaskan kesenian tradisi,” ujar Miarsih.

Masa kejayaan Srimulat telah pula mengantarkan Miarsih pada kenangan indah, tatkala grup lawak rakyat ini berulangkali pentas di luar Surabaya. Tetapi, sekarang ini teramat sulit menggapai kembali masa keemasan itu. “Sekarang ini kok gak iso yo numpak pesawat terbang. Padahal, tahun 1980-an ketika dapat undangan pentas ke Jakarta, Bontang, dan Banjarmasin, naik-turun dengan pesawat terbang,” ujarnya.

Kenangan bersama Srimulat Surabaya kini kembali melayang-layang di benaknya. Lalu dia bercerita, setiap hari Jumat dan Sabtu malam penonton pun menunggu kisah-kisah panggungnya, karena karakteristik Srimulat amat khas, terlebih pada kisah-kisah horor dengan drakulanya.

“Rasanya bangga sekali waktu itu, tetapi sekarang kami yang menunggu penonton, dan yang ditunggu juga tidak pernah datang,” ujarnya sembari menyeka bulir-bulir airmata.

Mia mengaku sudah berulangkali memberikan pendapat kepada pimpinan Srimulat Surabaya Bambang Suroso, tetapi tidak pernah diperhatikan dengan baik. “Saya merasa membesarkan anak-anak saya dari Srimulat dan sekarang sebagian besar sudah berumah tangga. Karena itu, hati kecil saya ndak rela kalau sampai Srimulat berantakan lalu bubar,” ujarnya.

Kakak pelawak Marwonto ini merasa teramat susah dengan kondisi pemain dan manajemen seperti sekarang. “Mencari bibit-bibit pemain baru saja sudah sulit, apalagi sekarang ini orang tidak mau repot-repot menonton Srimulat, toh di televisi sudah ada dan acaranya apik-apik dan menarik,” ujarnya.

HARAPAN untuk bisa tampil bareng dengan para pemain Srimulat di Jakarta juga sangat kecil, karena mereka sudah sangat sibuk. Namun demikian, wajah Mia sesekali nongol di stasiun televisi Indosiar. Tipikal panggungnya masih mengesankan perempuan kenes, walaupun usianya sudah tak lagi muda.

“Selama tiga tahun saya diajak Mas Kirun main ludruk, dan bersama Ludruk Hoki-nya yang ditayangkan TPI itu saya bisa terus tampil menghibur penonton,” ujarnya.

Ketika kontrak Ludruk Hoki berakhir tahun lalu, Miarsih pun mendapat tawaran main bersama Srimulat Jakarta dalam paket Srimulat Indosiar. Keterlibatannya dalam Aneka Ria Srimulat Jakarta itu hanya sekadar bisa ikutan tampil ketika rekan-rekan Srimulat Jakarta membutuhkan kehadiran dirinya sebagai pemain.

“Ya, baru sekitar 10-15 episode bersama Srimulat Jakarta. Jadi, kalau teman-teman di Jakarta sedang membutuhkan, ya baru saya dipanggil,” katanya.

Sebelum berhimpun sebagai seniwati panggung Srimulat, Mia pernah bergabung dengan grup Ketoprak Wargo Utomo, Klaten, Jawa Tengah, tahun 1969 hingga 1972. “Waktu itu saya masih muda menjadi pemain ketoprak, sebelum memutuskan bergabung dengan Srimulat Surabaya, tahun 1972,” tuturnya.

Selang dua tahun berhimpun bersama Srimulat Surabaya, ibu tujuh anak-Endang Palupi, Sri Rejeki Jati, Gatot Tri Broto, Arif Patri Santoso, Hendro Arianto, Hendro Sulistiono dan Diah Anggita Sari-itu memutuskan keluar dari Srimulat dan bergabung dengan kelompok kesenian Koka (salah satu tempat hiburan malam milik LCC di kawasan Basuki Rachmat, Surabaya-Red).

“Tahun 1974 saya keluar dan bergabung dengan kesenian LCC yang setiap hari Rabu malam manggung memberikan hiburan kepada pengunjung,” ujarnya.

Tahun 1978 ia keluar dari Koka dan kembali lagi bergabung dengan Srimulat, karena pengunjung tempat hiburan malam itu mulai jenuh dengan sajian ketoprak, wayang orang, keroncong maupun tari-tarian. “Bersama Mbak Endang Sasmito saya sempat main wayang orang untuk hiburan pengunjung Koka,” kenangnya. (ABDUL LATHIEF)

Posted by JC in 12:55:25 | Permalink | No Comments »