Kabar Terakhir Srimulat Surabaya, Pergulatan Tiga Hari demi Eksistensi
BANGUNAN gedung berwarna coklat di tengah kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya yang seakan “terkepung” oleh bangunan mal yang modern itu, siang itu tampak kusam dan lengang. Sendirian dan ditinggalkan. Menapaki tangga yang berdebu, kita segera melihat di samping kanan tampak dua loket tertutup. Terbaca tulisan “loket Srimulat” mencolok dengan warna merah, dan, “pesan tempat jam 10.00-14.00″ dan harga rata-rata Rp 3.000. Tulisan- tulisan itu saat ini tak bermakna apa-apa, karena tak ada petunjuk apa pun yang menyarankan sebuah denyut kehidupan–apalagi kehidupan kesenian.
KETUA Harian Srimulat Surabaya, Djumain Djaman Soesilla membukakan pintu utama gedung. Di dinding pembatas antara lorong masuk dengan tempat duduk penonton itu, kita disambut oleh jajaran foto wajah-wajah cerah, dengan senyum lebar atau tawa.
Di sana tampak sejumlah bintang Aneka Ria Srimulat, Djudjuk (istri Teguh Rahardjo pendiri Srimulat), Kadir, Basuki, Gepeng (almarhum), Asmuni, Tessy, Nunung, Vera, Subur (almarhum), dan banyak lagi. Mereka adalah bintang Aneka Ria Srimulat semasa masih jaya.
Terbayang bagaimana Triman dengan gayanya sebagai orang kaya dengan langkah terseok-seok mampu memancing rasa geli, apalagi ditambah tingkahnya yang sok dengan bahasa Inggris yang berlepotan. Gayanya selalu menimbulkan tabrakan logika dan menggelitik syaraf tawa.
Meminjam komentar Arwah Setiawan yang termuat dalam buku Teguh Srimulat Berpacu dalam Komedi dan Melodi tulisan Herry Gendut Janarto, penampilan seorang peraganya, Budi SR, misalnya, telah mampu memporakporandakan daya asosiasi Arwah Setiawan.
Budi yang sering tampil sebagai tukang pijat di panggung lengkap dengan tongkat putih dan bunyi crek…crek… kemudian melantunkan lagu And I Love You So dengan artikulasi yang benar dan suara merdu.
Dengan resep yang ditinggalkan Teguh Srimulat bahwa “yang aneh itu lucu”, di puncak kejayaannya, antara tahun 1970-1990-an awal, kelompok humor ini mampu menyedot penonton hingga memenuhi kapasitas 800 penonton di THR.
KILAS balik sejarah kelompok dagelan Aneka Ria Srimulat yang pernah jadi ikon Kota Surabaya ini, seperti tertulis pada buku Teguh Srimulat Berpacu dalam Komedi dan Melodi (1990) diawali dari sebuah kolaborasi antara sripanggung bersuara merdu, Srimulat dengan Teguh Rahardjo yang pemain gitar, di Solo.
Setelah membentuk kelompok seni Gema Malam Srimulat, dimulailah pengembaraan pasangan ini lewat pentas seni dari satu kota ke kota lain, dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Rombongan nyanyi dan tari ini, mulai dengan lawakan pertama mereka pada 30 Agustus 1951 menampilkan tokoh-tokoh dagelan Mataram seperti Wadino (Bandempo), Ranudikromo, Sarpin, Djuki, dan Suparni.
Perpaduan antara pertunjukan musik dan lawak kemudian menjadi suatu formula khas bagi Gema Malam Srimulat. Kehadiran dagelan Mataram dengan gaya lawakannya menjadi resep ampuh untuk menarik penggemar. Lawak dan nyanyi menjadi kesatuan yang tidak bisa dipisahkan lagi.
Dengan kekuatan itulah Gema Malam Srimulat kemudian berpentas dari satu pasar malam ke pasar malam lainnya, di pelbagai kota di Jawa. Dari satu kerumunan ke kerumunan massa lainnya.
Era tahun 1960, ketika Srimulat mulai terganggu kesehatannya, Teguh yang menemukan penyanyi cilik Yana-yang menggantikan peran Srimulat sebagai bintang panggung Gema Malam Srimulat-menelurkan gagasan untuk tampil di panggung secara menetap.
Maka, Jumat tanggal 19 Mei 1961 menjadi hari bersejarah bagi Gema Malam Srimulat yang menancapkan kakinya pertama kali di Surabaya, tepatnya di THR Surabaya. Nama Gema Malam Srimulat pun lalu diubah lebih “komersial” menjadi Srimulat Review. Dimulailah perjalanan sebuah komunitas kelompok musik-komedi yang mungkin secara tidak sengaja dan berproses menjadi sebuah fenomena, menjadi sebuah subkultur baru.
KETIKA banyak pementasan sarat dengan pesan dan kritik sosial, kelompok Srimulat membebaskan diri dari patron tersebut. Srimulat hadir untuk menghibur. Kelompok ini benar-benar merupakan perwujudan sebuah subkultur Jawa.
Seperti yang diungkapkan Djumain, “Kami tidak mengkritik, apalagi mencaci-maki membuat sakit hati orang. Tidak ada muatan-muatan kritik sosial tertentu. Yang pasti, kami tampil untuk menghibur, membuat orang tertawa.”
Di sana, seperti dituliskan Anwari dalam buku “Indonesia Tertawa, Srimulat sebagai Sebuah Subkultur”, Srimulat telah menerapkan pandangan-pandangan hidup orang Jawa seperti aja dumeh (jangan sok), tepa slira (tenggang rasa), gemi (hemat), dan lain-lainnya.
Ketika ditelisik lebih lanjut, ternyata ada pesan-pesan yang sarat dengan balutan kultur Jawa. Misalnya, dengan selalu membuat peran batur (pembantu rumah tangga) sebagai tokoh sentral yang selalu mengawali pertunjukan Srimulat. Tokoh batur ini pun selalu mengenakan busana Jawa-pria dengan blangkon dan perempuan dengan kebaya.
Di bukunya, Anwari menuliskan, seni lawak Srimulat merupakan puncak dari dagelan atau lawakan yang telah ada dalam kesenian tradisional Jawa. Kehidupan kelompok Srimulat ini sehari-hari jelas kental dalam kultur Jawa, walaupun mereka berasal dari berbagai daerah mulai dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Dalam perjalanannya, kelompok Srimulat tidak lagi hanya mengetengahkan dagelan Mataram, namun mulai merambah khazanah ketoprak dan ludruk -pertunjukan tradisional khas Jawa Timur.
Sebagai sebuah subkultur, di puncak kejayaannya Srimulat nyaris ibarat gelombang yang tak tertahankan. Hingga akhirnya membuka panggung permanen di Solo dan di Jakarta. Sampai-sampai panggung Srimulat diusung ke layar televisi.
Namun, manajemen tradisional yang tidak segera menyesuaikan diri, menyebabkan Srimulat terpuruk di akhir tahun 1980-an. Setelah itu, keluarga besar yang memiliki atmosfer yang menyuburkan kemampuan para anggotanya dalam melawak ini, secara perlahan mulai surut kekuatannya.
Semua lini pun menyurut, baik yang di Jakarta, Solo, bahkan di basisnya di THR Surabaya.
Upaya untuk bangkit lagi, Srimulat Surabaya pertengahan tahun 1980-an-1992, cukup berhasil. Namun lantaran salah urus oleh pihak manajemen, menyebabkan Srimulat Surabaya terpuruk lagi.
Ini berpuncak pada pertunjukan suatu malam bulan Desember 2000, yang menurut Djumain, terpaksa dibatalkan karena penonton yang datang hanya tiga orang (!).
TIDAK dapat dipungkiri bahwa dinamika sosial masyarakat memiliki andil yang tidak kecil atas surutnya pamor kelompok lawak Srimulat. Komunikasi antara kelompok ini seolah terputus dengan masyarakat penggemarnya saat itu.
Kini, setelah “mati suri” selama tiga tahun, Srimulat mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Seperti diungkapkan Djumain, dia akan mencoba “mengembalikan roh” Srimulat .
Pertunjukan yang rencananya akan digelar tiga hari mulai hari ini, Rabu 1 Oktober 2003 pukul 19.30, akan dikemas dalam bentuk tari, musik, lawak, bahkan akan ditambah lagi dengan sulap dan peragaan busana.
“Pertunjukan kami nanti akan menyamai televisi, sehingga berbeda dengan pertunjukan Srimulat yang lalu-lalu,” ujar Djumain, ketua harian yang merangkap sebagai sutradara Srimulat Surabaya.
Lakon yang digelar berturut-turut Raksasa Jatuh Cinta (Rabu 1 Oktober), Drakula Ngebor (Kamis 2 Oktober), dan Minak Jinggo Gandrung (Jumat 3 Oktober). Ini bisa disebut pentas “coba-coba”. Kalau sukses (dari segi penonton), pentas diteruskan ke hari-hari berikutnya. Kalau tidak? Srimulat sendiri yang harus menjawab. Untuk itu tidak kurang dari 66 artis akan digandeng Djumain, dan dua kelompok seni yaitu Sanggar Respati, serta Sanggar Tari dan Model Mahardika.
Di sisi lain, sosiolog Bagong Suyanto dari Universitas Airlangga Surabaya yang dihubungi Selasa (30/9), mengemukakan bahwa pamor Srimulat sebagai kelompok panggung merosot, karena Srimulat tidak mampu menampilkan kemasan baru. Seperti budaya Betawi yang ditampilkan di televisi dengan kemasan yang menarik.
“Kelemahan Srimulat, yaitu tidak mampu mengemas pertunjukan mereka secara menarik. Padahal, pasar sekarang sudah berubah, dan persaingan semakin sengit. Jika Srimulat tetap menampilkan lawakan yang dulu-dulu dengan pilihan kosa kata yang tidak berubah, akan menjemukan,” ujar Bagong.
Selain itu, keterbatasan lawak yang dibawakan secara langsung untuk mengundang penonton, memang tidak bisa melahirkan selebriti sebagaimana yang terjadi dalam sebuah pertunjukan musik. “Lawak tidak ada yang bisa dijual, karena hanya menjual suasana dan dialog. Sementara, penggemar perlu idola untuk bisa terus datang dan menyaksikan penampilan mereka,” tambah Bagong.
Untuk itu, tantangan yang dihadapi Srimulat sangat berat, sehingga kelangsungan hidup Srimulat tergantung dari usaha Srimulat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, termasuk dengan menggandeng media elektronik.
Menyinggung nasib ikon Kota Surabaya itu, Sabrot D Malioboro dari Dewan Kesenian Surabaya (DKS) memandang bahwa Srimulat sudah bukan lagi sebagai ikon Surabaya. Menurutnya, para pemain yang ada di Surabaya belum layak untuk ditonton, karena belum mampu membangun akar budaya Surabaya.
Ia menyarankan agar Srimulat tidak lagi konvensional agar mampu merebut penonton baru. “Kunci keberhasilan Srimulat saat ini tergantung dari pimpinan Srimulat yang baru. Bagaimana usahanya mengkonsolidasikan para personel, atau mengguyubkan personel yang selama ini terpencar-pencar,” katanya.
Keterpurukan kini memang melanda kehidupan para awak Srimulat. Lima keluarga dan dua bujangan yang tidak memiliki pekerjaan tetap kini tinggal di Gedung Srimulat THR Surabaya. Kondisi ini lalu membuat gerah Pemerintah Kota Surabaya yang mencanangkan akan merenovasi gedung Srimulat secepatnya.
Maka, dibuatlah perjanjian antara Pemkot Surabaya dan pihak Srimulat yang menyebutkan, personel Srimulat harus hengkang dari sana paling lambat 10 Oktober 2003.
“Saya ingin mencarikan pesangon buat mereka, untuk mengontrakkan rumah bagi para personel Srimulat,” ujar Djumain, “Karena itu, kami menggelar pementasan ini. Sekaligus untuk mengetes respons masyarakat Surabaya akan keberadaan Srimulat di sini.”
Djumain menegaskan, pertunjukan selama tiga malam ini akan menjadi semacam pertunjukan “hidup atau mati” bagi Srimulat Surabaya.
Tiga hari yang akan merupakan pergulatan berat bagi sebuah eksistensi subkultur. Mampukah mereka? (L04/ISW)